Stop Ejekan Sunnah Rasul Dimalam Jumat • Aulia Izzatunisa

•STOP EJEKAN SUNNAH RASUL•

Wahai ummat Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, jangan kamu lecehkan Rasulmu.

Sangat miris malam Jumat yg memiliki kekhususan ibadah & Sunnah Rasul yg jelas untuk:
– Membaca Surah Al-Kahfi,
– Membaca ayat suci Al Qur’an,
– Memperbanyak Sholawat & Dzikir,
– dan merupakan waktu Istijabah (waktu byk doa-doa hamba dikabulkan olehAllah).

Malah diselewengkan oleh sebagian umat Islam secara sadar ataupun tidak telah menyebarkan dakwahan vulgar bahwa malam Jumat adl hanya sebatas Malam Sunnah Rasul yg identik dengan hubungan suami istri (bahkan untuk perzinahan). Padahal hadist yg menjelaskan tentang berhubungan suami-istri di malam Jumat itu perlu dipertanyakan ke-shahih-annya­. Dan Hadits itu tidaklah ada kebenaran dan shahihnya. Lainnya pertanyakan dng ustad/ustadah kalian.

Yg lebih miris lagi di radio-radio& TV-TV penyiarnya dg vulgar bertanya pd pendengar/­penontonnya sambil tertawa, “Lagi Sunnah Rasul ya?”

Juga di Facebook, BBM, Twitter & jejaring sosial yg lain bahkan memasang foto/gambar vulgar/porno dg Tulisan: “Malam Jumat Malam Sunnah Rasul”, “Jangan Ganggu lagi Sunnah Rasul”, dan tulisan2 lain berbau porno/vulgar yg ditujukan atas nama “Sunnah Rasul.”

Wahai ummat Rosulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, apa setega itu kalian melecehkan Nabimu sendiri dgn olok-olok dan ejekan-ejekan yg menghinakan?

Apa kau identikkan gambar2 & foto2 porno itu atas nama Sunnah Rasulullah sebagai pelampiasan nafsumu?

Mengapa dari sebegitu banyak Sunnah Agung Rasulullah yg kamu sebarkan adalah olok-olok porno/vulgar tentang hubungan pria-wanita?
أَسْتَغفِرُالله­َ الْعَظيِمْ
اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَجِعُوْن

Jangan kamu permalukan/­hinakan & lecehkan Nabimu Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

STOP berolok-olok ttg malam Sunnah Rasul dg niatan buruk/­melecehkan.

Allah Maha Mengetahui.

#Tulisan dirangkum dari berbagai sumber#correct me if im wrong.

Shalat Witir Sebagai Penutup Shalat Malam

Dan telah menceritakan kepadaku Harun bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad katanya; Ibn Juraij mengatakan; telah mengabarkan kepadaku Nafi’ bahwa Ibnu Umar mengatakan; “Barangsiapa shalat malam, hendaknya ia menjadikan akhir shalatnya adalah witir sebelum (tiba waktu) subuh, demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat.”

HR. Muslim

Doa Dalam Sholat Malam

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Muhammad yaitu anak Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Salamah dari Kuraib dari Ibnu Abbas ia berkata; “Saya bermalan di rumah bibiku, Maimunah. Maka saya pun ingin melihat bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunaikan shalat malam. (Maka pada malam itu) beliau bangun dan kencing. Kemudian beliau membasuh wajahnya, kedua tangannya dan tidur kembali. Kemudian beliau bangun dan langsung beranjak menuju qirbah (tempat air). Beliau membuka tutupnya dan menuangkannya ke dalam mangkuk kecil. Kemudian beliau menciduk dengan tangannya dan berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya. Setelah itu beliau shalat, dan saya pun ikut shalat bersama beliau dengan berdiri di sebelah kirinya. Namun beliau memegang dan memindahkanku ke sebelah kanannya. (Pada malam itu) shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sempurna tiga belas raka’at. Sesudah itu beliau tidur hingga mendengku. Dan kami tahu jika tidur beliau mendengkur. Setelah itu, beliau keluar untuk menunaikan shalat Subuh. Kemudian beliau membaca di dalam shalat atau di dalam sujudnya: “ALLAHUMMAJ’AL FII QALBII NUURAN WA FII SAM’II NUURAN WA FII BASHARII NUURAN WA ‘AN YAMIINII NUURAN WA ‘AN SYIMAALII NUURAN WA AMAAMII NUURAN WA KHALFII NUURAN WA FAUQII NUURAN WA TAHTII NUURAN WAJ’AL LII NUURAN -atau beliau mengatakan- WAJ’ALNII NUURAN (Ya Allah, berilah cahaya pada hatiku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam penglihatanku, cahaya dari sebelah kananku, cahaya dari sebelah kiriku, cahaya dari depanku, cahaya dari belakangku, cahanya dari atasku, cahaya dari bawahku, dan berilah aku cahaya).” Dan telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami An Nadlru bin Syumail telah mengabarkan kepada kami Syu’bah Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Kuhail dari Bukair dari Kuraib dari Ibnu Abbas. Salamah berkata; Saya menjumpai Kuraib maka ia pun berkata, Ibnu Abbas berkata; Saya berada di rumah bibiku, Maimunah kemudian datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian ia pun menyebutkan hadits serupa dengan hadits Ghundar, dan ia mengatakan; “WAJ’ALNII NUURAN (Dan berilah aku cahaya).” Tanpa keraguan. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Hannad bin As Sariya keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami Abu Ahwash dari Sa’id bin Masruq dari Salamah bin Kuhail dari Abu Risydin Maula Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas ia berkata; Saya bermalam di rumah bibiku, Maimunah. Ia pun mengkisahkan hadits, namun ia tidak menyebutkan Ghaslul Wajh wal Kaffain (membasuh wajah dan kedua telapak tangan). Hanya saja ia mengatakan; “Kemudian beliau mendatangi qirbah dan membuka tutupnya, lalu beliau berwudlu di antara dua wudlu, kemudian beliau beranjak ke tempat tidurnya dan tidur. Setelah itu, beliau bangun kembali, lalu beranjak menuju qirbah (tempat air) lalu membuka tutupnya, kemudian berwudlu.” Kemudian beliau membaca: “A’ZHIM LII NUURA (Ya Allah, perbesarlah cahaya untukku).” Dan ia tidak mengatakan; “WAJ’AlNII NUURA.” Dan telah menceritakan kepadaku Abu Thahir Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari Abdurrahman bin Salman Al Hajri dari Uqail bin Khalid bahwa Salamah bin Kuhail telah menceritakan kepadanya bahwa Kuraib telah menceritakan kepadanya bahwa Ibnu Abbas pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beranjak menuju qirbah (tempat air), menuangkan air darinya dan berwudlu dengan tidak banyak menggunakan air, namun beliau juga tidak mengurangi wudlunya. Ia pun menyebutkan hadits. Kemudian di dalam hadits itu ia mengatakan; Pada malam itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a dengan sembilan belas kata. Salamah berkata, telah menceritakannya kepadaku Kuraib, dan saya menghafal darinya dua belas kata dan sisanya lupa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a: “ALLAHUMMAJ’AL LII FI QALBII NUURAN WA FII LISAANII NUURAN, WA FII SAM’II NUURAN WA FII BASHARI NUURAN WA MIN FAUQII NUURAN WA MIN TAHTII NUURAN WA ‘AN YAMIINII NUURAN WA ‘AN SYIMAALII NUURAN WA MIN BAINI YADAYYA NUURAN WA MIN KHALFII NUURAN WAJ’AL FII NAFSII NUURAN WA A’ZHIM LII NUURAAN (Ya Allah jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya di dalam lisanku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam penglihatanku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya dari arah kananku, cahaya dari sebelah kiriku, cahaya dari arah depanku, cahaya dari belakangku, dan berilah cahaya di dalam jiwaku dan perbesarlah cahaya untukku).” Dan telah menceritakan kepadaku Abu Bakr bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Maryam telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah mengabarkan kepadaku Syarik bin Abu Namir dari Kuraib dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata; “Saya bermalam di rumah Maimunah, yang saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berada di rumahnya. Demikian itu, agar saya dapat melihat bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbincang-bincang bersama isterinya sejenak, kemudian beliau tidur.” Ia pun menuturkan hadits. Dan di dalamnya ia mengatakan; “Kemudian beliau bangun lalu berwudlu dan bersiwak.”

HR. Muslim

Anak Adalah Titipan Allah

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Adi dari Humaid dari Anas ia berkata;

“Anak laki-laki Abu Thalhah sedang menderita sakit keras, sementara Abu Thalhah pergi ke masjid, kemudian anak tersebut akhirnya meninggal dunia.

Lalu Ummu Sulaim pun mengurusi jenazah tersebut dan berpesan kepada keluarganya yang lain agar tidak mengabarkan Abu Thalhah perihal kematian anaknya. Setelah itu Abu Thalhah pulang bersama teman-temannya dari masjid, ia bertanya; “Bagaimana kondisi anak kita?” Ummu Sulaim berkata; “Lebih baik dari sebelumnya!” Kemudian Ummu Sulaim menghidangkan makan malam kepada mereka, dan merekapun makan malam, setelah itu mereka pulang dan begitu juga para wanitanya.

Di akhir malam Ummu Sulaim berkata: “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu terhadap keluarga si fulan, mereka meminjam suatu barang, dan mereka betul-betul dapat menikmati barang tersebut, lalu ketika yang punya barang memintanya, mereka enggan mengembalikannya?” Abu Thalhah menjawab; “Mereka tidak adil!” Lalu Ummu Sulaim melanjutkan perkataannya, “Sesungguhnya anakmu adalah titipan Allah dan Dia sudah mengambilnya.”

Maka Abu Thalhah mengucapkan istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan memuji Allah. Ketika pagi sudah tiba Abu Thalhah bergegas menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat dia, beliau langsung bersabda: “Mudah-mudahan Allah memberkahi malam kalian berdua.” Maka Ummu Sulaim pun hamil lagi (mengandung Abdullah) dan melahirkan di malam hari. Ummu Sulaim tidak suka untuk mentahnik (mengunyah kurma, lalu dilumurkan di bibir bayi) sebelum Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam mentahniknya. Maka di pagi hari, dengan berbekal kurma ‘ajwah aku membawanya (Abdullah) kepada Rasulullah, lalu aku mendapati beliau sedang memberi makan unta-untanya. Aku berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ummu Sulaim semalam telah melahirkan seorang anak, dan dia tidak suka untuk mentahniknya sebelum engkau yang melakukannya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku: “Apakah engkau membawa sesuatu?” aku menjawab; “Beberapa kurma ‘ajwah.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil beberapa biji dari kurma tersebut dan mengunyahnya, lalu beliau mengumpulkan ludah (dan kunyahan kurma) seraya melumurkannya ke bibir bayi tersebut, dan bayi tersebut menjilat-jilat bibirnya. Setelah itu beliau bersabda: “Kurma adalah sesuatu yang paling disukai oleh orang Anshar.” Anas berkata; “Lalu aku berkata; “Wahai Rasulullah, berikanlah nama kepada bayi ini, ” beliau bersabda: “Berilah nama dengan Abdullah.” Telah menceritakan kepada kami Bundar berkata; Ibnu Abu Adi telah menceritakan kepada kami sebagian dari hadits ini. (Anas) berkata; “Aku menemuinya sedang beliau mengenakan selendang.” Telah menceritakan kepada kami Bundar berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Adi dari Ibnu ‘Aun dari Muhammad dari Anas ia berkata; “Aku menemuinya sedang beliau berada dikebun meracuni hama yang datang, dan beliau waktu itu mengenakan khamishah (sejenis mantel).” Beliau lalu bersabda: “Hendaklah engkau pelan-pelan, biarlah aku yang menuju ke tempatmu.” Pada awal hadits Ibnu Abu Adi mengatakan, “Sesungguhnya Abu Thalhah menjelang siang menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata; “Aku telah bermalam sebagaimana layaknya pengantin, ” beliau bersabda: “Semoga Allah memberkahi kalian berdua di malam kalian.” Dan Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim, “Bagaimana dengan kondisi anak laki-laki (kita)?” Ummu Sulaim berkata; “Ia lebih tenang dari sebelumnya.” Telah menceritakan kepada kami Musa bin Hilal berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Ibnu Sirin dari Anas bin Malik ia berkata; “Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim, dan ia adalah ibu dari Anas dan Bara`. Ummu Sulaim melahirkan seorang anak laki-laki untuk Abu Thalhah, Abu Thalhah sangat mencintainya, lalu ia menyebutkan hadits tersebut. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalian melakukan malam pengantin sedang ia ada di sisi kalian?” Abu Thalhah menjawab; “Benar ya Rasulullah, ” beliau bersabda; “Semoga Allah memberkahi kalian berdua di malam kalian.”

HR. Ahmad

Bersiwak Sebelum Sholat Malam

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul A’la dia berkata; telah menceritakan kepada kami Khalid dia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Hushain dia berkata; Aku mendengar Abu Wa’il menceritakan dari Hudzaifah dia berkata;

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam apabila bangun untuk shalat malam, beliau menggosok mulutnya dengan siwak.’

HR. Nasa’i