Ghibah Dan Fitnah

Penjelasan tentang Ghibah
.
Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah pernah ditanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan ghibah?” beliau menjawab: “Engkau menyebut tentang saudaramu yang ia tidak sukai.” Beliau ditanya lagi, “Bagaimana pendapatmu jika apa yang ada pada saudaraku sesuai dengan yang aku omongkan?” Beliau menjawab: “Jika apa yang engkau katakan itu memang benar-benar ada maka engkau telah berbuat ghibah, namun jika tidak maka engkau telah berbuat fitnah.” (HR.Abud dawud no.4874)
.
Dari Anas bin Malik ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika aku dinaikkan ke lagit (dimi’rajkan), aku melewati suatu kaum yang kuku mereka terbuat dari tembaga, kuku itu mereka gunakan untuk mencakar muka dan dada mereka. Aku lalu bertanya, “Wahai Jibril, siapa mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan merusak kehormatan mereka.” (HR.Abu dawud no.4787,4879)
.
Para salaf adalah orang yang sangat menjauhi ghibah dan takut jika terjerumus melakukan hal itu. Di antaranya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dia berkata, “Aku mendengar Abu ‘Ashim berkata, “Semenjak aku ketahui bahwa ghibah adalah haram, maka aku tidak berani menggunjing orang sama sekali.” (at-Tarikh al-Kabir (4/336)

Gosip Lebih Dekat Dengan Ghibah

Ngegosip itu bukan berbagi informasi, tapi berbagi bangkai saudara sendiri.
.
Maksudnya gimana tuh berbagi bangkai?
Coba simak ayat berikut baik2 :
.
“Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat : 12)
.
Jadi, ngegosip itu seperti memakan bangkai saudaramu sendiri. Kalo kamu lagi makan di kafe, sambil gosip, berarti dihadapan Allah itu kamu sedang makan bangkai saudaramu bareng2! Hina! Jijik! 😭
.
Btw, kenapa harus bangkai sih yg Allah isyaratkan?
Ibnu Abbas dalam menafsiri ayat di atas menyatakan: (إنما ضرب الله هذا المثل للغيبه لأن أكل لحم الميت حرام مستقذر و كذا الغيبه حرام فى الدين و قبيح فى النفوس)
Allah membuat perumpamaan ini untuk ghibah karena memakan daging bangkai itu haram dan menjijikkan. Begitu juga ghibah itu haram dalam agama dan buruk dalam jiwa. (Lihat Tafsir Al-Qurtubi hlm 16/346).
.
Jadi dear, jangan suguhkan sahabat2 kita dengan bangkai saudara kita. Jika ada yg yg kelepasan ngeghibah, jadilah kamu orang yang menghentikan pembicaraan itu. Tunjukkan sikap tidak “interest”, atau alihkan pembicaraan kepada hal lain. Mudah2an kita tdk menjadi #ShabatJahat , atau membiarkan kumpulan sahabat2 kita menjadi #SahabtJahat
.
Yuk ingetin temenmu skrg juga 😊

Berghibah Ketika Kumpul Bersama

Assalamu’alaikum #lovalila, Alila coba jawab pertanyaan ini ya. Bismillahirrahmanirrahiim…
.
Bagaimana menghadapi suasana yang menggiring pada ghibah?
.
Nah yang kayak gini tu sering terjadi. Kumpul-kumpul cuma untuk gosipin orang lain. Nah kalo kita berada dalam situasi seperti ini:
.
Pertama, nasihati mereka bahwa yang dilakukan itu adalah perbuatan dosa, dan seperti memakan bangkai sodaranya sendiri.
.
Kedua, Cari topik perbincangan yang lain, agar mereka tidak melulu fokus pada pembahasan Ghibah.
.
Ketiga, tinggalkan forum, dan do’akan agar mereka segera mendapatkan hidayahnya untuk tidak lagi menggosip.
.
Semoga bermanfaat ya dear 😊
.
#SahabatJahat

Stop Ghibah

Asy-Syeikh Ahmad bin Abubakar Basya’ban Ra bertanya:

“Tentang menggunjing keburukan orang lain, yang menurut Islam dinilai lebih berat dari tiga puluh kali berbuat zina. Padahal menggunjing keburukan orang lain tidak termasuk dalam salah satu dosa besar sebagaimana perbuatan zina.”

   Al-‘Allamah Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad Ra menjawab: “Secara lahiriyah, perbuatan menggunjing kesalahan orang lain tidak sekeji perbuatan zina yang dapat mengacaukan jalur keturunan manusia dan menimbulkan kerusakan-kerusakan lainnya.

   Akan tetapi yang menyebabkan perbuatan zina hanyalah rangsangan nafsu seks, seperti yang ada pada binatang. Namun yang menimbulkan perbuatan menggunjing kesalahan orang lain adalah rasa dengki dan hasud kepada seorang Muslim, padahal perbuatan itu termasuk perbuatan setan yang kejelekannya tiga puluh kali lebih buruk dari kejelekan binatang, sebagaimana yang telah disebutkan dalam sebuah hadits.

   Di lain riwayat disebutkan, menggunjing kesalahan orang lain, nilainya lebih berat dari berzina, karena perbuatan itu merusak hak asasi manusia.

   Padahal menurut sebuah riwayat dikatakan, menganiaya seorang hamba satu kali dapat diambil daripadanya tujuh ratus pahala shalat yang diterima dan menganiaya hak-hak orang lain termasuk perbuatan yang pasti akan dituntut di persidangan Allah SWT.”

ﻭَٱللّٰهُ أَﻋْﻠَﻢُ بِٱﻟﺼَّﻮَٱﺏِ
.
[ an-Nafaais al-‘Uluwiyyah Fi al-Masaail ash Shuufiyah’ lil Al-Imam Al-Qutub Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad]

Ketika Amalan Manusia Hanya Sia Sia

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Rafi’ berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnul Mubarak dari Usamah bin Zaid dari Sa’id Al Maqburi dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahalanya selain lapar, dan berapa banyak orang yang shalat malam tidak mendapatkan selain begadang. “

HR. Ibnu Majah

Larangan Bicara Kotor Saat Puasa

Telah menceritakan kepada kami Amru bin Rafi’ berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Mubarak dari Ibnu Abu Dzi`b dari Sa’id Al Maqburi dari Bapaknya dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan kotor, bodoh dan melakukannya, maka Allah tidak butuh meskipun dia meninggalkan makanan dan minumannya. “

HR. Ibnu Majah

Larangan Untuk Menggunjing / Ghibah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya:

“Tahukah kamu, apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab; ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‘Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak ia sukai.’ Seseorang bertanya; ‘Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau apabila orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: ‘Apabila benar apa yang kamu bicarakan itu ada padanya, maka berarti kamu telah menggunjingnya. Dan apabila yang kamu bicarakan itu tidak ada padanya, maka berarti kamu telah membuat-buat kebohongan terhadapnya.’

(HR. Muslim)

IG : @islam_nasehat
Blog : http://www.islam-nasehat.tk