Beruntungnya Para Mualaf

Muslimah Cantik Indonesia 

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah berikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

Hadits yang mulia menunjukkan besarnya keutamaan seorang muslim yang memiliki sifat qana’ah. (Syarhu shahiihi Muslim imam an-Nawawi 7/145)

Karena dengan itu semua dia akan meraih kebaikan dan keutamaan di dunia dan akhirat, meskipun harta yang dimilikinya sedikit. (Faidhul Qadiir 4/508)

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini

Arti qana’ah adalah merasa ridha dan cukup dengan pembagian rizki yang Allah Ta’ala berikan. (Faidhul Qadiir 4/508

Sifat qana’ah adalah salah satu ciri yang menunjukkan kesempurnaan iman, karena sifat ini menunjukkan keridhaan orang yang memilikinya terhadap segala ketentuan dan takdir Allah, termasuk dalam hal pembagian rizki. (Fiqhul asma-il husna hal. 81

Yang dimaksud dengan rizki dalam hadits ini adalah rizki yang diperoleh dengan usaha yang halal, karena itulah yang dipuji dalam Islam. (Faidhul Qadiir” (4/508)

Beruntunglah Orang Yang Hidup Dizaman Penuh Fitnah • Aulia Izzatunisa

Bismillah ..

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

🌹 Beruntunglah Bagi Orang Yang Hidup Dizaman Penuh Fitnah

♻️ Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

“Ketahuilah –semoga Alloh senantiasa memperbaiki diri kalian—, nikmat terbesar bagi orang yang Alloh ‘Azza Wa Jalla menghendaki kebaikan pada dirinya adalah ketika Alloh menghidupkannya sekarang ini, di zaman ketika Alloh tengah memperbaharui agama-Nya, menghi-dupkan kembali syiar kaum muslimin

menghidupkan ihwal kaum mukminin dan para mujahidin; sehingga keadaannya mirip dengan As-Sabiqunal Awwalin dari kalangan Muhajirin dan Anshor. Maka siapa saja yang melaksanakan semua ini di zaman sekarang, berarti ia termasuk orang-orang yang mengikuti jejak mereka dalam kebaikan.

Maka sudah selayaknya kaum mukminin bersyukur kepada Alloh atas ujian yang pada hakikatnya adalah anugerah mulia dari Alloh Ta‘ala ini, seharusnya mereka mensyukuri terjadinya fitnah yang di dalamnya mengandung nikmat besar ini.

Hingga seandainya para shahabat As-Sabiqûnal Awwalûn dari kalangan Muhajirin dan Anshor, seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan yang lainnya, mereka hadir di tempat ini, tentu amalan paling utama yang mereka lakukan adalah berjihad melawan orang-orang jahat itu.

Dan tidak ada yang ketinggalan dari peperangan seperti ini selain orang yang merugi perdagangannya, dungu jiwanya, dan diharamkan untuk mendapatkan bagian besar dari dunia dan akhirat; kecuali orang yang mendapatkan udzur dari Alloh, seperti orang sakit, fakir, buta, dan lain sebagainya.”

Nasehat Islam – Orang Asing Yang Beruntung Pada Hari Kiamat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Pada hari kiamat nanti akan datang suatu kaum kepada Allah, cahaya mereka seperti cahaya matahari.”
Maka Abu Bakar berkata: “Apakah mereka itu kami wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Bukan, bagi kalian ada banyak kebaikkan, mereka adalah orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah, mereka dikumpulkan dari penjuru dunia.”
kemudian beliau berkata; “keberuntungan bagi orang-orang yang terasing, keberuntungan bagi orang-orang yang terasing, keberuntungan bagi orang-orang yang terasing.” Ditanya; “Siapakah orang-orang yang terasing itu wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang shalih hidup di tengah-tengah orang-orang buruk yang banyak, orang-orang yang menentangnya lebih banyak daripada orang-orang yang mentaatinya.”
(HR. Ahmad)

Beruntungnya orang beriman

Alloh Swt. berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS. AL Mu’minun [23] : 1-3)

Saudaraku, dalam ayat ini kita menemukan bahwa salah satu tanda dari keimanan seseorang kepada Alloh Swt. adalah menjauhi urusan-urusa yang sia-sia atau tidak berguna, baik itu perkataan maupun perbuatan.

Kalau digambarkan, kita harus seperti sedang berjalan di antara duri-duri, selalu berhati-hati supaya kaki kita tidak menginjak atau tersangkut duri. Jadi, keberuntungan kita, kemenangan kita, sangat dipengaruhi oleh kehati-hatian kita terjadap ucapan dan perbuatan yang sia-sia. Semakin kita berjalan di jalan keberuntungan, semakin kita barhati-hati menghindari hal-hal yang tiada berguna.

– Aulia Izzatunisa