Aku mendakwahimu karena cinta, agar kita rasakan indahnya Islam bersama.
.
Aku mendakwahimu bukan berarti aku sudah suci, pemegang kunci surga. Kuakui, akupun tak luput dari salah dan dosa. Namun kuingin mengamalkan setitik ilmu ini, kuingin melakukan apa yang ku bisa, memberikan yang terbaik yang bernilai pahala dihadapan-Nya.
.
Tahukah kamu?
Surga Allah terlalu luas untuk dihuni sendirian. Maka dari itu, aku ingin kita memasukinya bersama-sama..
Dengan belajar bersama, taat bersama.
.
Jadi, kalau aku ada salah, ingetin aku juga ya temans 😊
Sayang kan?
Yuk mention sahabatmu..
.
#DakwahTandaCinta
Author: Maya Leana
Peranan Wanita
Assalamu’alaikum #lovalila, Akhir Hijab Alila ganti tema looo… Nah setelah kemarin kita sudah bahas tema tentang esensi dakwah yaitu CINTA. Seminggu ke depan kita akan bahas esensi keberadaan wanita di dunia. Seberapa besar sih peranan wanita bagi kehidupan manusia? Apakah wanita memang hanya dijadikan pelengkap saja? atau sebenarnya wanita lah kunci dari akhlak kehidupan manusia.
.
Nah insyaallah, kita akan jawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan postingan seminggu kedepan. terus stay tune ya dear, jangan lupa turn of notificationnya, byr gak ketinggalan sama update-annya ya…
.
#TiadaUmmatTanpaUmm
Tips Dakwah Dilingkungan Non Muslim Dan Sekuler
Jika Akhlak Wanita Rusak
Pendidikan Tinggi Untuk Wanita
Pendidikan tinggi seorang wanita bukan semata untuk karirnya. Tapi kualitas keturunannya.
Banyak sekali cibiran tentang wanita sarjana yang memutuskan untuk menjadi “full time mom” atau Ibu Rumah Tangga setelah menikah.
.
“Udah sekolah mahal-mahal, ujung2nya di dapur juga!”
“Lulusan s1, s2, tapi jadi pengangguran!”
.
Perlu disadari, Sebagai ibu/calon ibu, ternyata kecerdasan kita (wanita) berpengaruh besar pula pada kecerdasan anak kelak. Menurut penelitian, kecerdasan anak itu depengaruhi dari kualitas orangtuanya, terutama ibunya.
.
Menurut Ridley, bahwa kira-kira separuh IQ kita dapatkan melalui pewarisan, dan kurang dari 20% berasal dari asuhan keluarga. Sisanya berasal dari kandungan, sekolah, dan teman sepergaulan.
.
Dalam Islam, Ibu adalah ustadzah pertama, sebelum si kecil berguru kepada ustadz besar sekalipun
Maka kecerdasan, keuletan, dan perangai sang ibu adalah faktor dominan bagi masa depan anak.
Maka dari itu, perlunya wanita cerdas untuk mendidik anak-anak penerus bangsa.
.
Buat kamu yang masih single.. Wake up, dear! Be a smart girl.. Perkaya ilmu pengetahuan kita, karena anak kita berhak mewariskan gen kecerdasan yang baik dr ibunya.
.
Mirisnya, sekarang pemikiran seperti ini perlahan ditenggelamkan. Seolah tingkat pendidikan menjadi standar kualitas seseorang. Kecerdasan wanita harus dikontribusikan pada suatu perusahaan, sehingga memperoleh materi yang banyak. Memiliki kehidupan mewah, adalah suatu pencapaian yg membanggakan. Selain dengan cara itu, maka pendidikan yang dianyamnya dikatakan tak berguna.
.
Padahal, kontribusi terbesar wanita adalah di dalam rumahnya. Mendidik generasi berkualitas dengan ilmu yang dia punya, kelak anak2nya lah yang nantinya akan meneruskan peradaban. Boleh saja menyalurkan minat atau bakat di luar rumah, asalkan hak-kewajiban di dalam rumah terselesaikan dengan baik.
.
Semoga kita semua tergolong sebagai orang tua yang dapat mencetak generasi terbaik 😇
Aamiin
Ibu Adalah Pendidik Pertama Anak-Anak
Riwayat Hadits Dari Abu Hurairah
Riwayat Hadits Dari Abu Hurairah
1. dari Abu Hurairah ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Imam sebagai penjamin sedangkan mu’adzin sebagai orang yang dipercaya. Ya Allah, luruskanlah para imam dan ampunilah para mu’adzin.” Abu Isa berkata; “Dalam bab ini juga ada riwayat dari ‘Aisyah, Sahl bin Sa’d dan Uqbah bin ‘Amir.” Abu Isa berkata; “Hadits Abu Hurairah diriwayatkan oleh Sufyan Ats Tsauri dan Hafsh bin Ghiyats dan beberapa orang dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” Asbath bin Muhammad juga meriwayatkan dari Al A’masy, ia berkata; “Aku pernah dibacakan sebuah hadits dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Nafi’ bin Sulaiman meriwayatkan hadits ini dari Muhammad bin Abu Shalih dari ayahnya dari ‘Aisyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Isa berkata; “Aku mendengar Abu Zur’ah berkata; “Hadits Abu Shalih dari Abu Hurairah lebih shahih dari hadits Abu Shalih yang diriwayatkan dari ‘Aisyah.” Abu Isa berkata; “Aku mendengar Muhammad berkata; “Hadits Abu Shalih dari ‘Aisyah derajatnya lebih shahih.” Dan ia juga menyebutkan dari Ali bin Al Madini, bahwasanya ia tidak pernah menetapkan (shahih) hadits riwayat Abu Shalih dari Abu Hurairah, dan hadits Abu Shalih dari ‘Aisyah tentang permasalahan ini.”
– Hadits Tirmidzi
2. dari Abu Hurairah para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Tuhan kami pada hari kiamat nanti? ‘ Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam lantas bersabda: “Apakah kalian kesulitan melihat bulan ketika malam purnama?” “Tidak”, Jawab para sahabat. Rasulullah bertanya lagi: “Apakah kalian kesulitan melihat matahari ketika tidak ada mendung?” Para sahabat menjawab, “Tidak ya Rasulullah.” Nabi bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat-Nya demikian pula Allah akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat dan berfirman: ‘Barangsiapa menyembah sesuatu, hendaklah ia mengikuti yang disembahnya.’ Maka siapa yang menyembah matahari, ia mengikuti matahari, siapa yang menyembah bulan, ia ikuti bulan, siapa yang menyembah thaghut, ia ikuti thaghut, dan tersisalah dari umat ini orang penolongnya atau justru orang-orang munafiknya -Ibrahim ragu kepastian redaksinya-. Lantas Allah menemui mereka dan berkata, “Aku Tuhan kalian.” Lantas mereka menjawab, “Ini adalah tempat tinggal kami sehingga Tuhan kami mendatangi kami, jika Tuhan kami menemui kami, niscaya kami mengenalnya.” Allah kemudian menemui mereka dengan bentuk yang mereka kenal, Allah lalu berfirman: “Aku Tuhan kalian.” Lantas mereka katakan, “Engkau memang Tuhan kami.” Mereka pun mengikuti-Nya. Titian (jembatan) lantas dipasang antara dua tepi jahanam dan aku dan umatkulah yang pertama-tama menyeberangimnya. Tak ada yang berani bicara ketika itu selain para rasul, sedang seruan para rasul ketika itu yang ada hanyalah ‘Allaahumma sallim sallim (Ya Allah, selamatkan kami. Ya Allah, selamatkan kami) ‘. Sedang di neraka jahannam terdapat besi-besi pengait seperti duri pohon berduri yang namanya Sa’dan. Bukankah kalian sudah tahu pohon berduri Sa’dan?” Para sahabat menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.” Nabi meneruskan: “Sungguh pohon itu semisal pohon berduri Sa’dan, hanya tidak ada yang tahu kadar besarnya selain Allah semata. Pohon itu menculik siapa saja sesuai kadar amal mereka, ada diantara mereka yang celaka dengan sisa amalnya atau terikat dengan amalnya, diantara mereka ada yang binasa yang langgeng dengan amalnya atau terikat dengan amalnya, diantara mereka ada yang diseberangkan. Atau dengan redaksi semisal-. Kemudian Allah menampakkan diri, hingga jika Allah selesai memutuskan nasib hamba-Nya dan ingin mengeluarkan penghuni neraka karena rahmat-Nya, Ia perintahkan malaikat untuk mengeluarkan penghuni neraka siapa saja yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, yaitu diantara mereka yang Dia masih ingin merahmatinya, diantara yang bersyahadat bahwasanya tiada sesembahan yang hak selain Allah, sehingga malaikat mengenal mereka di neraka dari bekas-bekas sujud, sebab neraka memangsa anak adam selain bekas-bekas sujud. Allah mengharamkan neraka memangsa bekas-bekas sujud, sehingga mereka keluar dari neraka dengan badan yang hangus terbakar, mereka kemudian disiram dengan air kehidupan sehingga tumbuh dibawahnya sebagaimana biji-bijian tumbuh dalam aliran sungai, kemudian Allah selesai memutuskan hamba-hamba-Nya dan tersisa diantara mereka seseorang yang menghadapkan wajahnya ke neraka, dan dialah mantan penghuni neraka yang terakhir kali masuk surga, kecuali ia berdoa, ‘Ya Tuhan, palingkanlah wajahku dari neraka, sebab baunya saja sudah cukup menggangguku dan jilatan apinya telah membakarku.’ Orang itu kemudian memohon kepada Allah sekehendaknya untuk berdoa, kemudian Allah berfirman: ‘Kalaulah Aku memenuhi permintaanmu, jangan-jangan engkau nanti meminta harapan lain! Ia menjawab, ‘Tidak, demi kemuliaan-Mu, saya tidak akan meminta selainnya.’ Dan Tuhannya pun mengambil janji dan ikrar sekehendak-Nya lalu memalingkan wajahnya dari neraka. Namun kemudian ia menghadap surga dan melihat keindahan surga, ia pun lantas terdiam beberapa saat dan memohon, ‘Ya Allah, jadikanlah aku berada di pintu surga.’ Allah bertanya: ‘Bukankah engkau telah menyerahkan janjimu dan ikrarmu untuk tidak meminta-Ku selama-lamanya selain yang telah Aku berikan. Hai engkau Anak Adam, alangkah senangnya engkau berkhianat.’ Namun hamba itu tetap saja memohon, ‘Ya Tuhanku, ‘ dan ia terus memohon Allah hingga Allah bertanya: ‘Kalaulah Aku memberimu apa yang kau minta sekarang, jangan-jangan engkau minta lagi dengan permintaan lain.’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi kemuliaan-Mu, saya tidak akan meminta-Mu lagi dengan permintaan lain.’ Lantas orang itu menyerahkan janji dan ikrarnya sehingga Allah mengajukan ke pintu surga. Namun ketika hamba itu telah berdiri ke pintu surga, surga terbuka baginya sehingga ia melihat kesenangan hidup dan kegembiraan di dalamnya sehingga ia terdiam sekehendak Allah ia diam. Kemudian ia memohon, ‘Ya Tuhanku, masukkanlah aku dalam surga, maka Allah mengatakan, ‘Hai, bukankah telah engkau serahkan janjimu untuk tidak meminta yang lain selain yang telah Aku berikan, wahai Anak Adam, alangkah cepatnya engkau berkhianat.’ Maka si hamba tadi memohon, ‘Ya Tuhanku, jangan aku menjadi hamba-Mu yang paling sengsara, ‘ si hamba itu terus tiada henti memohon hingga Allah tertawa. Dan jika Allah telah tertawa kepada seorang hamba, Allah musti berkata kepadanya ‘Masuklah kamu ke surga.’ Jika si hamba telah memasukinya, Allah berkata kepadanya: ‘Tolong buatlah impian’. Maka si hamba meminta Tuhannya dan membuat impian-impian, hingga Allah mengingatkannya dengan berfirman sedemikian-sedemikian hingga impian si hamba sudah sampai puncaknya, Allah berfirman kepadanya: ‘Itu semua untukku, dan ditambah seperti itu pula.’ ‘Atha’ bin Yazid berkata, ” Abu Sa’id alkhudzri bersama Abu Hurairah tidak mengembalikan sedikitpun hadisnya, hingga jika Abu Hurairah telah menceritakan bahwa Allah berfirman ‘dan bagimu semisalnya’, Abu Sa’id Al Khudzri berkata ‘dan sepuluh semisalnya bersamanya’ wahai Abu Hurairah? ‘ Abu Hurairah berkata, ‘Saya tidak hapal selain ucapannya itu ‘bagimu dan semisalnya’. Abu Sa’id Al Khudzri berkata lagi, “Saya bersaksi bahwa saya menghapalnya dari Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, yaitu redaksi ‘Dan bagimu sepuluh semisalnya’. Abu Hurairah berkata, ‘Itulah manusia terakhir kali masuk surga.’
– Hadits Bukhari
3. Abu Hurairah pernah mengatakan; “Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, aku pernah menempelkan lambungku di atas tanah karena rasa lapar, aku juga pernah mengikatkan beberapa batu diperutku karena rasa lapar. Pada suatu hari aku pernah duduk di jalan yang biasa para sahabat lewati, kemudian lewatlah Abu Bakar, lalu aku bertanya kepadanya tentang ayat dari kitabullah, dan aku tidaklah menanyakannya kecuali hanya agar ia menjamuku namun ia tidak melakukannya. Setelah itu lewatlah Umar, kemudian aku bertanya kepadanya tentang suatu ayat di kitabullah, tidaklah aku bertanya kepadanya kecuali hanya agar ia menjamuku namun ia tidak melakukannya. Setelah itu lewatlah Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika melihatku beliau tersenyum dan mengetahui apa yang tergambar dari wajah dan hatiku, beliau lalu bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah? ‘ Aku menjawab; ‘Aku penuhi panggilanmu wahai wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Ikutlah.’ Lalu aku mengikuti beliau, aku lalu minta izin untuk masuk dan beliau mengizinkanku, ternyata aku mendapatkan susu di dalam mangkok, beliau bersabda: ‘Dari mana kalian mendapatkan susu ini? ‘ Orang-orang rumah menjawab; ‘Fulan atau fulanah menghadiahkannya kepada anda.’ Beliau bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah! ‘ Aku menjawab; ‘Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Temuilah ahli suffah (para sahabat yang tinggal di pelataran masjid) dan ajaklah mereka kemari.’ Abu Hurairah berkata; ‘Ahli Suffah adalah para tamu kaum muslimin, mereka tidak tinggal bersama keluarga dan tidak memiliki harta, jika Nabi mendapatkan hasil dari sedekah, maka beliau tidak akan memakannya dan akan mengirimnya kepada ahli suffah, dan apabila beliau diberi hadiyah, maka mereka akan mendapatkan bagian dan kadang beliau mengirim sebagiannya untuk mereka.’ Lalu aku berkata; ‘Hal itu membuatku sedih, lalu aku berkata (dalam hati); ‘Apa perlunya ahli suffah dengan susu tersebut, karena akulah yang berhak daripada mereka, aku berharap dapat minum seteguk susu sekedar bisa bertahan dari sisa waktuku, apabila ada kaum yang datang maka akulah yang menyuguhi mereka, (kataku selanjutnya). Apalah artinya susu yang tersisa jika bukan untuk suatu ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu aku pergi dan mengundang mereka, mereka akhirnya datang dan meminta izin, beliau kemudian mengizinkan, sehingga mereka pun mengambil posisi tempat duduk mereka masing-masing, beliau bersabda: ‘Hai Abu Hurairah.’ Aku menjawab; ‘Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Ambil dan berikanlah kepada mereka.’ Akupun mengambil mengkok tersebut dan memberikannya kepada seorang laki-laki, maka laki-laki itu meminumnya hingga kenyang, setelah itu ia mengembalikannya kepadaku, kemudian aku berikan kepada yang lain, dan ia pun minum hingga kenyang kemudian ia mengembalikan mangkok tersebut kepadaku hingga aku kembalikan mangkok itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga mereka semua sudah merasa kenyang. Beliau kemudian mengambil mangkok itu dan menaruhnya di tangan, lalu beliau melihatku sembari tersenyum, beliau bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah! ‘ Aku menjawab; ‘Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Sekarang tinggal aku dan kamu.’ Aku menjawab; ‘Benar wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Duduk dan minumlah.’ Lalu aku duduk dan meminumnya, beliau bersabda kepadaku; ‘Minumlah.’ Lalu aku minum lagi dan beliau terus menyuruhku untuk minum, hingga aku berkata; ‘Tidak, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku sudah tidak sanggup lagi.’ Beliau bersabda: ‘Berikan bejana itu.’ Aku lalu memberikannya kepada beliau, setelah memuji Allah dan menyebut nama-Nya beliau akhirnya meminum sisanya.”
– Hadits Bukhari
4. dari Abu Hurairah dia berkata, “Suatu delegasi datang kepada Mu’awiyah di bulan Ramadan, oleh karena itu sebagian kami sibuk membuat makanan untuk sebagian yang lain, di antaranya terdapat Abu Hurairah yang sering mengajak kami ke tempatnya (rumahnya), lalu aku berkata kepadanya, “Tidak layakkah jika aku membuat makanan lalu aku undang mereka untuk makan-makan di rumahku?” lalu aku menyuruh (keluargaku) untuk membuatkan makanan.” Di petang harinya, aku menemui Abu Hurairah, kukatakan padanya, “Sekarang makan malam di rumahku.” Abu Hurairah menjawab, “Kamu telah mendahuluiku.” Aku berkata; “Ya, aku mendahuluimu, dan juga mengundang mereka semua.” Setelah itu, Abu Hurairah berkata; “Sukakah jika aku ceritakan kepada kalian suatu peristiwa mengenai diri kalian wahai orang-orang Anshar?” kemudian dia menyebutkan seputar penaklukan kota Makkah, katanya, “Saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat hingga beliau tiba di Makkah. Lantas beliau mengangkat Zubair mengepalai satu sayap (pasukan), Khalid pada sayap yang lain, dan mengangkat Abu ‘Ubaidah mengepalai pasukan yang tidak mengenakan baju besi. Mereka masuk ke dalam lembah, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu regu.” Abu Hurairah berkata, “Lalu beliau melihatku seraya bersabda: “Wahai Abu Hurairah.” Jawabku, “Ya wahai Rasulullah!.” Beliau bersabda: “Jangan perbolehkan orang-orang mendekat kepadaku selain orang-orang Anshar.” -beliau menambahkan- “Kecuali Syaiban.” Beliau melanjutkan: “Suruh orang-orang Anshar mendekat kepadaku.” Abu Hurairah melanjutkan, “Mereka segera berkumpul di sekeliling beliau, sedangkan orang-orang Quraisy juga telah menyusun barisan dalam beberapa pasukan. Kata orang-orang Quraisy, “Biarkan mereka mendahului kita, jika mereka beruntung, maka kita sama-sama dengan mereka, namun jika mereka membahayakan, maka kita berikan kepada mereka apa yang dimintanya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalian lihatlah pasukan Quraisy dan pengikut-pengikut mereka!” kemudian beliau memberi isyarat dengan kedua tangannya, yang satu di atas yang lain (maksudnya supaya waspada dan saling melindungi), kemudian beliau bersabda lagi: “Sampai berjumpa di Shaffa.” Abu Hurairah berkata, “Kami terus berjalan, dan tidak seorang pun di antara kami yang membunuh, kecuali jika seorang Quraisy itu membunuh.” Ternyata tidak ada perlawanan yang ditujukan kepada kami. Kemudian Abu Sufyan datang sembari berkata, “Wahai Rasulullah, jikalau orang-orang Quraisy dibunuhi, maka tidak akan ada lagi orang-orang Quraisy sesudah ini.” (artinya; orang-orang Quraisy menyerah kalah tanpa pertumpahan darah), maka beliau bersabda: “Siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia akan aman.” Maka orang-orang Anshar berkata sesama mereka, “Agaknya laki-laki ini, telah dipengaruhi perasaan rindu kepada kampung halamannya sehingga timbul rasa kasih terhadap sanak familinya.” Abu Hurairah berkata, “Ketika itu wahyu turun. Kalau wahyu turun, tidak seorang pun dari kami yang memandang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga wahyu selesai turun. Ketika wahyu selesai turun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai kaum Anshar!” Mereka menjawab, “Kami wahai Rasulullah?” beliau bersabda: “Kaliankah yang berkata bahwa laki-laki ini, agaknya telah dipengaruhi perasaan rindu dengan kampung halamanya?” mereka menjawab, “Batul” Beliau bersabda: “Sekali-kali tidak, aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku telah hijrah kepada Allah dan kepada kalian semua, hijdup dan matiku juga bersama kalian.” Setelah mendengar itu mereka datang menghampiri beliau sambil menagis dan berkata, “Demi Allah, kami tidak mengatakan seperti itu melainkan kami iri dengan Allah dan Rasul-Nya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya membenarkan pengakuan kalian semua dan memaafkan kalian.” Abu Hurairah berkata, “Kemudian orang-orang (penduduk Makkah) berdatangan ke rumah Abu Sufyan, dan mereka menutup pintu rumah mereka. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan hingga tiba di Hajar Aswad dan menciumnya, setelah itu beliau thawaf mengelilingi Ka’bah. Abu Hurairah berkata, “Beliau juga mendatangi berhala sesembahan orang-orang Quraisy yang terletak di sekitar Ka’bah, lalu beliau tusuk matanya dengan busur panah yang ada di tangan beliau sambil bersabda: “Telah datang kebenaran, dan lenyaplah kebatilan.” Setelah selesai thawaf, beliau menuju bukit shafa lalu naik ke puncaknya. Sesampainya di atas, beliau memandang ke Ka’bah, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sambil memuji Allah dan berdo’a dengan do’a yang beliau kehendaki.” Dan telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Hasyim telah menceritakan kepada kami Bahz telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al Mughirah dengan isnad seperti ini, dan dalam haditsnya ia menambahkan, “kemudian beliau mengisyaratkan dengan kedua tangannya, yang satu dengan yang lainnya saling mempererat (melindungi).” Dan dia menyebutkan dalam haditsnya, “Mereka berkata, “Memang kami telah mengatakan seperti itu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Lupakah kalian siapakah aku, sekali-kali tidak, sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”
– Hadits Muslim
Hadits Terbaik Ibnu Majah
Hadits Terbaik Ibnu Majah
1. Anas bin Malik berkata; Ayat ini turun; “Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih, ” lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai kaum Anshar, sesungguhnya Allah telah memuji kalian di dalam perkara bersuci, maka bagaimana kalian bersuci?” mereka menjawab; “Kami berwudlu untuk shalat, mandi besar, dan beristinja` dengan air.” Beliau bersabda: “Apa yang sekarang kalian lakukan maka tekunilah.”
2. dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kiamat tidak akan datang hingga manusia berbangga-bangga dengan masjid.”
3. dari Ibnu ‘Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat kalian akan memegahkan masjid-masjid kalian setelah sepeninggalku, sebagaimana orang-orang Yahudi memegahkan sinagog-sinagog mereka, dan sebagaimana orang-orang Nasrani memegahkan gereja-gereja mereka.”
4. Dari Irbadl bin Sariyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memintakan ampun bagi orang-orang yang ada di barisan pertama tiga kali dan barisan kedua satu kali. “
5. dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah seorang laki-laki yang ditinggal mati oleh tiga orang anak laki-lakinya kemudian masuk neraka kecuali hanya sepintas lalu. “
6. dari Abu Sa’id Al Khudlri ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari dua bentuk pernikahan; seorang laki-laki menikahi wanita dan menikahi bibi (isteri) nya dari pihak ayah, dan seorang laki-laki menikahi wanita dan menikahi bibinya dari pihak ibu.”
7. dari Abu Hurairah, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seseorang mabuk, maka kalian harus menghukumnya dengan hukuman dera, Apabila ia mengulanginya, maka kalian harus menghukum dera kembali. Dan apabila mengulangi lagi, maka kalian harus menghukumnya dengan hukuman dera kembali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada yang ke empat kalinya: ‘Apabila ia mengulanginya lagi, tebaslah lehernya.’
Hadits Bermanfaat Imam Nasa’i
Hadits Bermanfaat Imam Nasa’i
1. Dari ‘Amr bin Salamah. Abu Qilabah berkata kepada Ayyub dia -Amr bin Salamah- masih hidup, apakah kamu tidak menemuinya? Ayyub berkata; ‘maka aku menemuinya, dan bertanya kepadanya. Lalu dia berkata,; “Setelah penakluklan (Fathu) Makkah, setiap kabilah bergegas memeluk Islam. Ayahku mengajak kaumnya masuk Islam. Ketika dia datang kami menyambutnya, dia berkata, ‘Demi Allah, aku datang dari sisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membawa kebenaran kepada kalian, beliau bersabda, “Shalatlah kalian begini pada waktu tertentu dan shalat tertentu pada waktu tertentu pula. Bila telah tiba waktu shalat, maka hendaklah salah seorang dari kalian adzan, lalu yang paling banyak hapalan Al Qur’annya menjadi imam bagi kalian.”
2. Dari Al Aswad dia berkata; ‘Abdullah berkata; “Janganlah salah seorang dari kalian memberi bagian untuk syaithan pada dirinya, yaitu dengan mengharuskan seseorang untuk tidak beranjak dari shalat kecuali dari sebelah kanannya, sebab aku sendiri melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam sering beranjak dari sebelah kirinya.”
3. dari Ibnu ‘Abbas dia berkata; “Rasulullah melaknat para wanita yang berziarah kubur, Orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid dan memasang lampu-lampu disekitar kuburan.”
4. Dari bapaknya dari Aisyah, ia berkata; kami berangkat dan tidak berniat kecuali melakukan haji, kemudian tatkala kami berada di Sarif (tempat dekat dengan Mekkah), saya mengalami haid. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemuiku dan saya dalam keadaan menangis. Beliau bertanya: “Apakah engkau mengalami haid?” Maka saya katakan; ya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya hal ini adalah sesuatu yang telah Allah ‘azza wajalla tetapkan kepada anak-anak wanita Adam, maka lakukan apa yang dilakukan orang yang berihram, hanya saja janganlah berthawaf Ka’bah.”
5. Abdul Wahhab, ia berkata; saya pernah mendengar Yahya bin Sa’id berkata; telah memberitakan kepadaku Malik bin Anas bahwa Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadanya bahwa Abdullah dan Al Hasan keduanya anak Muhammad bin Ali, mereka mengabarkan kepadanya bahwa ayah mereka yaitu Muhammad bin Ali telah mengabarkan kepada mereka bahwa Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk menikahi wanita dengan cara mut’ah pada saat perang Khaibar. Ibnu Al Mutsanna berkata; pada saat perang Hunain, dan ia berkata; demikian Abdul Wahhab telah menceritakan kepada kami dari tulisannya.
6. Dari Aisyah berkata; “Para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian dia meminta izin kepada beiau sedang beliau dalam keadaan berbaring bersamaku dalam pakaian buluku. Kemudian beliau memberikan izin kepadanya, lalu Fatimah berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya para isteri Tuan mengirimku kepada Tuan, mereka meminta keadilan mengenai anak Abu Quhafah. Dan saya dalam keadaan diam, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Wahai anakku, bukankah engkau mencintai orang yang saya cintai?” Dia berkata; “Ya.’ Beliau bersabda: “Maka cintailah orang ini.” Kemudian Fathimah bangkit ketika dia mendengar hal tersebut dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian dia kembali kepada para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengabarkan kepada mereka apa yang telah dia katakan dan apa yang beliau sabdakan kepadanya. Kemudian mereka berkata; kami tidak melihat dirimu memuaskan kami sedikitpun, maka kembalilah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan katakan kepada beliau; sesungguhnya isteri-isteri Tuan menuntut keadilan mengenai anak Abu Quhafah.” Fathimah berkata; “Tidak. Demi Allah saya tidak akan berbicara dengan beliau mengenainya selamanya. ‘Aisyah berkata; “Kemudian isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim Zainab binti Jahsy kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dia adalah orang yang menjadi sainganku di antara isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam kedudukan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saya tidak melihat seorang wanita yang paling baik dalam agama lebih baik daripada Zainab dan lebih bertakwa kepada Allah ‘azza wajalla, lebih jujur perkataannya, lebih sering menyambung ikatan kekerabatan, lebih besar sedekahnya, dan lebih rendah diri dalam hal amalan yang dia sedekahkan dan dia gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah selain cepat marah karena keras budi pekertinya, namun dia cepat menarik diri dari kemarahan. Dia meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tengah bersama Aisyah dalam baju bulunya sebagaimana ketika Fathimah menemui beliau. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan izin kepadanya, kemudian dia berkata; “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya isteri-isteri Tuan mengirimku, mereka meminta keadilan mengenai anak Abu Quhafah.” Dan dia mencelaku, dia berbicara lama sedang saya memperhatikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan memperhatikan ujung matanya, apakah beliau mengizinkan saya (membalas) ucapannya. Zainab tidak kunjung pergi hingga saya mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membenci saya jika saya membalasnya Kemudian tatkala saya mencelanya saya tidak diam begitu saja (mendengar celaannya) hingga (kemudian) saya menyerangnya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dia adalah anak Abu Bakar.” Imran bin Bakkar Al Himshi telah mengabarkan kepadaku, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah memberitakan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Abdur Rahman bin Al Harits bin Hisyam bahwa Aisyah berkata;…(dia menyebutkan seperti di atas). Dan dia berkata; “Para isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim Zainab kemudian dia meminta izin dan beliau mengizinkannya kemudian dia masuk dan berkata seperti itu. Ma’mar menyelisihi keduanya, dia meriwayatkannya dari Az Zuhri dari ‘Urwah dari ‘Aisyah.”
Hadits Suci Tirmidzi Pilihan
Hadits Suci Tirmidzi Pilihan
1. dari Ibnu Umar dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda: ” Tidak akan diterima shalat yang dilakukan tanpa bersuci, dan tidak akan diterima sedekah yang berasal dari harta curian.” Hannad menyebutkan dalam haditsnya, “tidak suci.” Abu Isa berkata; “Hadits ini adalah yang paling shahih dan paling baik dalam bab ini.” Dalam bab tersebut juga ada hadits dari Abu Al Malih dari Bapaknya dan Abu Hurairah dan Anas. Dan Abu Al Malih bin Usamah namanya adalah Amir, disebut juga Zaid bin Usamah bin Umair Al Hudzali.”
– Hadits Tirmidzi
2. dari Abu Hurairah ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Salah seorang dari kalian akan tetap dalam hitungan shalat selama ia menunggu shalat. Dan malaikat juga akan senantiasa bershalawat selama salah seorang dari kalian berada di masjid, mereka berkata; “Ya Allah ampunilah ia, Ya Allah rahmatilah ia, ” yakni selama ia tidak batal.” Seorang laki-laki dari Hadramaut bertanya, “Wahai Abu Hurairah, bagaimana ia batal?” ia menjawab, “Kentut tanpa suara atau pun bersuara.” Ia berkata; “Dalam bab ini juga ada riwayat dari Ali, Abu Sa’id, Anas, Abdullah bin Mas’ud dan Sahl bin Sa’d.” Abu Isa berkata; “Hadits Abu Hurairah derajatnya hasan shahih.”
– Hadits Tirmidzi