Tamparan Keras Untuk Muslim Pecinta Fanatik Korean Idol

Kebanyakan anak muda jaman sekarang ngefansnya sama oppa oppa dan eonni eonni ya?

Soal kejadian baru-baru ini tentang pelaporan iklan salah satu online marketplace sebab iklan itu menampilkan salah satu girlband yang sedang naik daun berlenggak-lenggok menggunakan pakaian minim, yang dilaporkan oleh beberapa Ibu yang SANGAAAATTT peduli dengan anak-anak Indonesia terutama anaknya, notabennya memang iklan tersebut tidak layak dipertontonkan pada anak kecil, eh sebenarnya ga hanya pada anak kecil sih, pada orang dewasa juga, yah pokoknya sangat ga wajar lah

Tapi, ga sampai situ aja permasalahannya. Fans daripada girlband ini ga terima sebab idolanya dilaporkan dengan tuduhan seperti diatas, kata mereka;
“yaelah lebay banget”
“gitu doang, udah biasa kali”
“norak banget gitu aja pake dilaporin” dari pernyataan ringan sebab tidak terima—sampai puncaknya berupa hinaan, celaan, cacian pada si Ibu; “USIR DIA DARI INDONESIA, INDONESIA GA BUTUH ORANG YANG GA OPEN MINDED”

Sebenarnya, bukan si Ibu yang ga open minded. Mungkin kitanya aja yang kurang aware, kitanya yang kurang peduli dengan sekitar, dengan adik-adik kita. Ya, mungkin kita sudah terbiasa menonton tarian-tarian seperti yang dilakukan si anggota girlband itu, tapi bagaimana dengan adik-adik kita? Dengan mereka yang berusaha dengan keras menjaga pandangannya?
Mungkin kita salah, dan kita semua pernah salah, tapi akankah kita membiarkan kesalahan itu dilakukan lagi oleh adik-adik kita?

Dan lagi, kata-kata kasar itu dilontarkan pada seorang IBU, ya aku tau beliau bukan Ibu yang melahirkanmu, tapi tetap saja beliau seorang IBU
Tega kah kita berkata kasar pada Ibu kita? Coba bayangkan jika Ibu kita yang diperlakukan seperti itu, miris… rasanya moral kita telah terkikis
Hanya karna membela idola, kita jadi berani menghina Ibu kita. Padahal jelas-jelas yang kita idolakan tidak bisa menyelamatkan dari panasnya Jahannam😭😭

Cara Anak Saleh Memuliakan Ayah Dan Ibu

“Hari Ibu”, banyak anak-anak yang memberi kejutan pada Ibunya, tak terkecuali yang keberadaannya jauh sekali dari sang Ibu
Perasaan sedih juga pasti ada pada teman-teman kita yang Ibunya sudah meninggal, kadang bingung bagaimana caranya supaya bisa seperti teman-teman yang lainnya. Foto bareng Ibu di tanggal 22, beri kejutan dan masih banyak hal lainnya yang bisa dilakukan bareng Ibu
Tapi, dibalik rasa sedih kita. Semua ada solusinya dalam Islam. Sebagai seorang muslim, berbakti kepada orang tua itu bukan hanya saat beliau masih hidup, tapi juga setelah beliau meninggal, dan tidak akan pernah berhenti untuk berbakti kepada keduanya sampai akhir hayat kita

Lalu bagaimana cara berbakti kepada Ibu maupun Bapak kita meskipun telah meninggal?

1. Memohonkan ampun untuk beliau
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda dalam sebuah hadis Qudsi: “ Diangkat derajat seseorang yang sudah meninggal, kemudian berkata: “Ya Rabb, apa (penyebab) ini?” kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab: “anakmu memohonkan ampun untukmu.”

2. Bersedekah atas nama orang tua
Dari Abdullah bin Abbas RA ia berkata: “Sesungguhnya ibu dari Sa’ad bin ‘Ubadah RA meninggal dunia. Sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sisinya. Kemudian Sa’ad mengatakan: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun menjawab: “Iya bermanfaat”. Kemudian Sa’ad mengatakan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya.” (HR. Bukhari)

3. Melaksanakan nazar, kafarat, wasiat, dan janji yang belum terpenuhi
Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, lalu dia berkata, “Sesungguhnya ibu saya telah bernazar melakukan haji, dia meninggal sebelum melaksanakan nadzar hajinya. Apakah boleh melakukan haji menggantikannya?” Nabi menjawab, “Lakukan haji untuknya”. (HR. Bukhari)

4. Melunasi hutang orang tua
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ruh seorang yang beriman tergantung dengan hutangnya, sampai dilunasi hutangnya”. (HR. Tirmidzi)

“Ya, ada empat perkara: menshalatinya dan memohonkan ampun kepada Allah untuk mereka, melaksanakan janji-janji mereka, memuliakan teman-teman mereka, dan menyambung tali kekeluargaan yang kamu tidak memiliki pertalian kecuali dari adanya pertalian itu, itu perbuatan bakti kepada mereka yang tersisa bagimu untuk kamu lakukan setelah mereka meninggal.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

5. Menyambung silaturahim dengan saudara dan teman orang tua
“Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti (berbuat baik) adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik ayahnya.” (HR. Muslim)

6. Menjadi anak yang shalih/shalihah
“Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah segala amalnya. kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim)

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran…

Rahasia Kepandaian Agama Imam Syafi’i

Abu Abdullah Muhammad Idris Asy Syafi’i alias Imam Syafi’i. Siapa saja pasti tau namanya, kan? Dari usia 7 tahun, Imam Syafi’I telah selesai mengkhatamkan hafalan Al-Qur’annya dengan fasih dan mutqin. Bahkan, beliau pernah pada suatu ketika mengkhatamkan hafalan Qur’annya sebanyak 16 kali dalam suatu perjalanannya dari Mekkah menuju Madinah. 
Tidak cukup sampai disitu, setahun kemudian kitab Al-muwatha’ karya Imam Malik yang berisikan 1.720 hadis pilihan, juga berhasil dihafal oleh Imam Syafi’i diluar kepala. ⠀
Berangkat dari pencapaian-pencapaian luar biasa dari sosok Imam Syafi’i, tentunya tidak terlepas dari peran utama sang Ibunda yang merupakan madrasatul ula baginya
Fathimah binti Ubaidillah Azdiyah namanya. Beliau berasal dari suku Al-Azd di Yaman. Garis keturunan beliau masih bersambung dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dari Ubaidillah bin Hasan bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Sejak bayi, Imam Syafi’i di didik dan besarkan sendirian oleh Ibunya. Suaminya, Idris bin Abbas bin Usamah bin Syafi’i telah meninggal dunia saat Imam Syafi’i berusia 2 tahun, tanpa meninggalkan sedikit harta pun untuk diwarisi.
Setelah kepergian suaminya tersebut, Fathimah akhirnya membesarkan putranya seorang diri. Pada saat itu, beliau pun akhirnya berinisiaf untuk hijrah dari Gaza, Palestina—yang merupakan kampung halaman suaminya—menuju Mekkah. Dengan maksud mempertemukan kembali Imam Syafi’i dengan keluarga besarnya yang berasal dari suku Quraisy.

Menjadi seorang single parent serta hidup dengan serba kekurangan dari segi material, tidak lantas menyurutkan impian dan semangat Fathimah yang dikenal cerdas ini, untuk mendidik Syafi’i menjadi seorang ‘alim dalam ilmu pengetahuan. Upaya-upaya ini bahkan sudah diterapkan oleh Fathimah sejak Imam Syafi’i masih dalam kandungan.
Salah satunya adalah benar-benar menjaga kehalalan nafkah yang ia berikan kepada Imam Syafi’i—sejak putranya masih berada di dalam kandungannya. Menurut Fathimah, untuk membina sesuatu yang baik pada seorang anak itu, harus sudah dibiasakan semenjak anak tersebut berada di dalam kandungan.
Salah satunya adalah benar-benar menjaga kehalalan nafkah yang ia berikan kepada Imam Syafi’i—sejak putranya masih berada di dalam kandungannya. Menurut Fathimah, untuk membina sesuatu yang baik pada seorang anak itu, harus sudah dibiasakan semenjak anak tersebut berada di dalam kandungan.

Pada suatu hari, Fathimah meninggalkan Syafi’i kecil yang sedang tertidur sendirian di rumah untuk pergi ke pasar. Lalu ketika Syafi’i kecil terbangun dan mendapati ibunya tidak berada disisinya, ia pun menangis sejadi-jadinya sampai suara tangisannya tersebut terdengar oleh seorang ibu, tetangga Fathimah. Melihat kejadian tersebut, ibu itu langsung mencoba menenangkan tangsian Syafi’i kecil dengan mencoba menyusuinya. Sesampainya di rumah, ketika Fathimah mengetahui akan hal tersebut, ia merasa khawatir jika saja terdapat unsur haram yang masuk ke tubuh Syafi’i melalui susu tetangganya tersebut. ⠀
Tanpa berpikir panjang, Fathimah pun langsung memasukkan jari telunjuknya kedalam mulut Syafi’i hingga kepangkal kerongkongan, mengangkat tubuhnya dan kemudian mengguncang-guncang perutnya, agar semua susu yang telah masuk ke dalam perut Syafi’i pada saat itu dapat termuntahkan kembali. Begitulah kira-kira gambaran kekhawatiran Fathimah terhadap hal-hal menyangkut halal haramnya segala sesuatu yang dikonsumsi oleh Imam Syafi’i. ⠀
Begitulah fitrah seorang Ibu dalam menjaga anaknya dari segala hal yang haram, sebab segala sesuatu yang diberikan pada seorang anak akan mempengaruhi watak dan karakter anak tersebut
Jikalau apapun yang diberikan pada orang tua kepada si anak segala sesuatu yang halal, maka tumbuhlah anak tersebut menjadi pribadi yang baik, tapi jika orang tua memberikan nafkah terhadap anak hanya sebatas mencukupi kebutuhannya tanpa mempedulikan halal dan haramnya, bisa jadi anak tersebut memiliki pribadi yang tidak baik.

Beda Agama Dengan Ortu, Benarkah Agama Adalah Warisan?

Ingat ga kalau beberapa waktu lalu ada seorang anak yang mem-viralkan puisi soal “agama warisan”? Katanya, agama itu adalah warisan, bahwa seseorang memeluk agama berdasarkan agama orang tuanya terdahulu, tapi rasa-rasanya puisinya tersebut terbantahkan dengan bahasan kali ini, sebab ada yang orang tuanya kafir tetapi anaknya muslim, begitupun sebaliknya

Lalu, haruskan kita tetap berbakti kepada orang tua terutama Ibu jika keduanya adalah non muslim? Adakah perbedaan cara untuk berbakti pada keduanya?
Nah dear… Dalam Islam, kita harus tetap berbakti pada kedua orang tua meskipun berbeda keyakinan
Para Ulama mengambil dalil tentang wajibnya berbakti dan bersilaturahmi kepada kedua orang tua meskipun keduanya masih kafir
Tapi kafir yang dimaksud pada permasalahan ini bukan kafir harbi yaitu kafir yang menentang dan memerangi Islam
Jika orang tuanya tidak kafir harbi, tidak menyerang kaum muslimin, maka hendaklah bergaul dengan mereka dengan baik dan bersilaturahmi kepada keduanya.
Allah berfirman:
“Dan bergaul-lah kepada keduanya dalam kehidupan dunia dengan cara yang ma’ruf” (QS. Luqman: 15)

Kemudian dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8, Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada orang-orang yang tidak menyerang kita:
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama. Dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”

Lalu bolehkah mendoakan orang tua kita bila mereka non muslim? jawabannya adalah boleh
Sebagaimana Rasulullah pernah mendoakan orang yang tidak beriman saat beliau berdakwah di Thaif. Kala itu, Rasulullah mendapatkan sambutan yang kejam hingga dilempari batu, sampai-sampai malaikat menawarkan bantuan agar mereka diazab. Namun, Rasulullah menampik dan mengatakan “Jangan!”. Sebaliknya, Nabi malah mendoakan mereka seperti ini: ” Ya Allah, berilah hidayah kepada orang-orang yang tidak senonoh menyakiti saya karena mereka tidak tahu.”

Berdasarkan, dalil di atas, maka mendoakan orang tua non muslim yang masih hidup sangat dianjurkan sebatas doanya agar keduanya mendapat hidayah Allah, agar keduanya beriman dengan Allah. Lalu, selain itu? Tidak diperbolehkan

Begitulah hebatnya ajaran Islam, kita diajarkan menjadi semakin baik, tak hanya pada sesama saudara seiman tapi juga kepada mereka yang imanannya berbeda. Tetap berbakti pada kedua orang tua meskipun berbeda keyakinan, dan mendoakan mereka agar Allah memberikan hidayah-Nya pada kedua orang tua kita

Hanya Pemuda Pemudi Bodoh Yang Pacaran

Udah siap nikah, tapi kok cara jemput jodohnya dengan pacaran? 🙈
Adalagi yang mikir gamau putus karna takut ga dapet jodoh
Lha? Rezeki, jodoh dan maut kan udah diatur sama Allah. Kenapa ragu sampai ketakutan gitu?

Hmm, berarti ada yang salah dengan diri kita. Tau apa? Yep, keyakinan kita terhadap Allah!
Katanya yakin kalau jodoh itu gaakan kemana, tapi kenapa masih takut ga dapet jodoh sampai pacaran?

Pacaran bertahun-tahun, gamau putus. Sampai berdoa sama Allah biar hubungan itu langgeng atau minimal minta doa ke temen tiap anniversary/pas baru jadian “doain ya semoga langgeng”
Lho??? Masa minta doa untuk kelancaran maksiat yang dilakukan diri sendiri 😭

Kita semua memang pernah salah, tapi jangan juga berlarut-larut dalam kesalahan
Yuk, sudahi perbuatan-perbuatan semacam ini
Iya kalau misalnya jadi nikah, kalau engga? Buang-buang waktu aja buat jagain jodoh orang 🙈

Nikah Atau Menuntut Ilmu?

Nikah itu ibadah, tapi menuntut ilmu juga tidak kalah penting Mungkin diantara kalian ada yang sedang bimbang, lanjutin kuliah atau nikah?

Perlu banget kita ketahui, bahwa menikah itu tidak sedikitpun mengganggu seseorang dalam belajar agama dan ilmu-ilmu dunia, juga tidak mengganggu seseorang untuk membangun masa depan seseorang

Sebab tak sedikit juga yang berpikir bahwa setelah menikah, semua pasti berubah. Iya sih… terutama tanggung jawabnya

Tapi apa dengan menikah akan menghambat kita untuk menuntut ilmu? Jawabannya adalah tidak
Banyak kok di luar sana pasangan yang sudah menikah bahkan sudah memiliki anak tapi tetap melanjutkan mendidikannya sampai ke tingkat master
Nah, terbukti kan bahwa menikah itu tidak sama sekali menghambat kita dalam belajar

Eits, tapi tentu ada aturannya. Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” —Muttafaq Alaihi.

Boleh kok melanjutkan kuliah setelah menikah, tapi tentu itu bagaimana komitmen kamu dengan calon pasanganmu saat melangsungkan ta’aruf
Ketuk semua ‘pintu’ yang ada, berdoa yang terbaik untuk semuanya, selalu libatkan Allah dalam setiap prosesnya, selanjutnya biarkan Allah menjawab melalui skenario terbaik-Nya 😊

Bolehkah Menolak Lamaran Orang Saleh?

Maasyaa Allah, kami salut sekali dengan teman-teman yang semangat memperbaiki diri di hadapan Allah 😊😍

Bismillah, kami coba jawab pertanyaan ini ya dear…

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi)

Jika kamu sudah siap untuk menikah dan laki-laki itu orang yang shalih, baik agamanya dan akhlaknya maka sangat diperbolehkan untuk menerima lamarannya. Jika ada keraguan, maka mintakan pendapat pada keluarga atau musyrifah atau orang yang kamu percayai di sekelilingmu

Adapun pendapat dari Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan hafidzahullah tentang bolehnya menolak lamaran lelaki sholeh, beliau hafidzahullah menjawab: “Apabila engkau tidak berhasrat untuk menikah dengan seseorang maka engkau tidaklah berdosa
untuk menolak pinangannya, walaupun ia seorang laki-laki yang shalih.

Karena pernikahan dibangun di atas pilihan untuk mencari pendamping hidup yang shalih disertai dengan kecenderungan hati terhadapnya. Namun bila engkau menolak dia dan tidak suka padanya karena perkara agamanya, sementara dia adalah seorang yang shalih dan berpegang teguh pada agama maka engkau berdosa dalam hal ini karena membenci seorang mukmin, padahal seorang mukmin harus dicintai karena Allah, dan engkau berdosa karena membenci keteguhannya dalam memegang agama ini. Akan tetapi baiknya agama laki-laki tersebut dan keridhaanmu akan keshalihannya tidaklah mengharuskanmu untuk menikah dengannya, selama tidak ada di hatimu kecenderungan terhadapnya. Wallahu a’lam”

Sedangkan, teruskan proses hijrahmu. Jangan pernah berhenti untuk memantaskan diri terutama untuk menghadap-Nya. Karena hijrah itu tak ada ujungnya hingga akhirnya kita kembali pada-Nya. Jika Allah pertemukan dengan jodoh yang shalih, dengannya kamu bisa menentukan visi misi dalam pernikahan yaitu menolong agama-Nya 😊

Wallahu a’lam bishawab

Tips Mengatasi Baper Pada Lawan Jenis

Kami punya tips anti baper nih buat kamu-kamu yang suka baper liat pasangan-pasangan (halal) muda 😜😂

1. Mendekatkan diri pada Allah dan cintai Rasulullah
Yang ini udah paten, gaboleh engga. Pokoknya harus, mau baper mau engga ya harus dong selalu mendakatkan diri pada Allah dan cintai Rasul-Nya
Kalau hati sudah dibentengi dengan cinta pada-Nya dan Rasulnya Insyaa Allah ga akan gampang baperan 😂

2. Bahagiakan orang tua dan keluarga
Tentunya dengan pencapaian kamu dalam bidang pendidikan, bisa juga dari perubahan kamu yang semakin baik dalam memahami Islam
dan masih banyak lagi.

3. Perbanyak puasa
“Wahai sekalian para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu untuk menikah maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penjaga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Jadikan pernikahan mereka sebagai motivasi
Yang utama, luruskan niat. Menikah untuk meraih ridho-Nya atau cuma biar bisa kemana-mana ada yang digandeng? (truk kali ah…) dan tambang ilmu soal pernikahan, parenting yang sesuai dengan ajaran Islam

5. Jalani kegiatan yang bermanfaat
Sibuki diri dengan beljar ilmu agama dan hal-hal positif lainnya bisa buat dirimu ga sempet baper-baperan! Ga gampang bengong yang berujung berkhayal si ‘dia’

Semoga tips ini bermanfaat ya dear 😉 tetap istiqomah memperbaiki diri
Jodoh kita memang sudah Allah tentukan tapi kita tak pernah tau mana yang lebih dulu, jodoh atau maut

Persiapan Mati

KAPAN ANDA MATI…?
.
Oleh :
Ustadz Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
.
Sobat, apa sikap anda bila secara mendadak mendapat pertanyaan seperti di atas? Terlebih bila yang bertanya adalah orang yang tidak anda kenal?
.
Anda marah? Anda tesinggung? Atau anda menduga bahwa penanya menginginkan kematian untuk anda.?
.
Tenang sobat! Anda marah atau tidak, tetap saja anda pasti mati, cepat atau lambat tetap saja mati. Namun sadarkah anda bahwa kematian anda telah ada saatnya? Tidak dapat disegerakan dan tidak pula dapat ditunda walau hanya sesaat? Allah Ta’ala berfirman:
.
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
.
Setiap orang memiliki batas waktu (ajal) dan bila batas waktu yang ditetapkan telah tiba, maka mereka tiada kuasa menunda atau mengajukannya walau hanya sesaat. (Al A’raf 34)
.
Atau barang kali anda tersnggung karena anda menduga bahwa kematian adalah bencana dan petaka buruk bahkan paling buruk yang menimpa manusia.
.
Tidak sepenuhnya demikian sobat, bagi orang yang beriman kematian adalah awal dari kebahagiaan yang sebenarnya.
.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
.
Sesungguhnya orang orang yang mengatakan bahwa Rab kami adalah Allah lalu mereka istiqamah di atasnya, maka akan turun kepada mereka para malaikat yang berkata kepada mereka: janganlah engkau takut atau bersedih dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan untuk kalian. (Fusshilat 30)
.
Hanya saja, benarkah anda termasuk orang yang akan mendapatkan kabar gembira dari para malaikat di saat menghadapi ajal ?
.
Sobat! Mumpung masih ada kesempatan, berusahalah dengan sungguh sungguh , pelajari ilmu agama, perbanyak doa, amal sholeh, dan jauhi kemaksiatan,semoga Allah berkenan meneguhkan iman anda hingga akhir hayat, amiin.

Fungsi Dakwah Tauhid

Dakwah Tauhid Memecah Belah?
.
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafidzahullah pernah ditanya:
“Sungguh telah menyebar –Alhamdulillah– seruan dakwah kepada manhaj salaf dan berpegang teguh dengannya, akan tetapi ada orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya dakwah ini (dakwah salaf) tidak lain hanyalah akan memecah belah barisan (kaum muslimin), mengoyak, dan menjadikan sebagian mereka memerangi sebagian yang lain. Sehingga mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri dan meninggalkan (memerangi) musuh-musuh mereka yang hakiki’. Apakah ini benar, dan apa nasehat Syaikh?”.
.
Beliau menjawab:
.
Ini adalah pemutar-balikan hakekat (fakta), karena sesungguhnya berdakwah kepada tauhid dan manhaj salafus shalih itulah yang mampu menyatukan kalimat, dan menyatukan barisan (kaum muslimin) sebagaimana firman Allah Ta’ala:
.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا … {103}
.
“Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah secara keseluruhan, dan jangan kalian berpecah-belah.” (Ali ‘Imran: 103).
.
Dan juga firman-Nya:
.
إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ {92}
.
“Sesungguhnya ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka beribadahlah kepadaKu.” (Al-Anbiya’: 92).
:
Tidak mungkin kaum muslimin bisa bersatu kecuali di atas kalimat tauhid dan manhaj salaf. Jika mereka diperbolehkan memilih manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf niscaya mereka akan bercerai-berai dan berselisih, seperti yang terjadi sekarang ini.
.
Siapa yang menyeru kepada tauhid dan manhaj salaf, itulah orang yang menyeru kepada persatuan, sedangkan orang yang menyeru (umat) untuk menyelisihi manhaj salaf maka dialah yang menyeru kepada perpecahan dan perselisihan.
.
Sumber : Al-Ajwibatu Al-Mufidah ‘an As’ilah Al-Manahij Al-Jadidah hal 164 karya Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah