Tips Mengajak Keluarga Dan Sahabat Ke Kajian

Dear, mendakwahkan orang-orang terdekat kita memang bukanlah hal mudah. Ada yang gampang buat diajak hal baik, tapi banyak juga yang susah untuk diajak.
.
Dakwah punya cara. Kita tidak bisa memaksakan orang untuk bisa langsung berubah. Sebagaimana orang pun tidak bisa dipaksa untuk memeluk agama Islam. Seperti pada kutipan surah Al-Baqoroh Ayat 256
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat……..”
Jadi penekanan dakwah lebih kepada menunjukkan kebenaran dan kesesatan, bukan memaksa, masalah ia akan berubah atau tidak, hidayah ada di tangan Allah. Biarlah target dakwah tersebut diajak berpikir, apakah kebenaran yang ia ikuti, apakah kesia-siaan, ataukah malah jalan kesesatan. Dari situlah kemudian dia akan menentukan langkah hidupnya.
.
Saat kita ingin saudara kita ikut kajian, tunjukkan dan buktikanlah pada mereka bahwa ketika kita sering menghadiri majelis ilmu, ada perubahan cara berpikir dan perilaku. Kalau kita berhasil menunjukkan perubahan positif pada mereka, insya Allah mereka pun akan tertarik ingin juga berubah seperti kita.
Selain itu, hal yang tak kalah penting, teruslah membersamai mereka, jadilah orang terdekatnya, yang selalu mengerti, dan memahami apa yang dia suka. Saat kita dekat dengan mereka, apapun nasihat dan ajakan kita insya Allah akan lebih mudah diterima oleh mereka. Jangan pernah berdakwah dengan cara menggurui, tapi jadilah sahabat taat untuk orang-orang yang kita cintai.
.
Semoga Allah lembut kan hati kita dan saudara-saudara kita untuk terus menjemput hidayah-Nya 
#SesiQnASpesial

Waspada Tradisi Syirik

Hindari Tradisi Syirik di bulan Muharram!
.
Dear, ada beberapa tradisi yang sering dilakukan untuk menyambut bulan Muharram atau sering juga disebut 1 suro.  Tradisi tersebut diantaranya :
1. Sadranan/larungan, yaitu nasi tumpeng dengan berbagai lauk pauk, dan kepala kerbau yang dihanyutkan ke laut. 
2. Kirab binatang yang dikramatkan.
3. mencuci barang-barang pusaka seperti keris, alat gamelan dll.
4. berebut hasil pertanian yang sudah di kirab (diarak)
Kegiatan ini dilakukan untuk mengharap keberuntungan dan membuang sial, serta mengharap keberkahan dari laut, gunung atau sesuatu yang dipercayai dapat mendatangkan keberuntungan.
.
Hal ini karena pelaku ngalap berkah yang seperti itu, mempunyai keyakinan bahwa ada dzat lain yang mampu mendatangkan keselamatan/berkah serta menolak bahaya selain Allah Ta’ala. .
Dalam pembahasan ilmu agama Islam biasa disebut dengan Tathayyur ( تَطَيُّرْ ) atau Thiyarah ( طِيَرَةٌ ) yakni suatu anggapan bahwa suatu keberuntungan atau kesialan itu didasarkan pada kejadian tertentu, waktu, atau tempat tertentu.
.
Orang-orang jahiliyyah dahulu meyakini bahwa Tathayyur ini dapat mendatangkan manfaat atau menghilangkan mudharat. Setelah Islam datang, keyakinan ini dikategorikan kedalam perbuatan syirik yang harus dijauhi. Dan Islam datang untuk memurnikan kembali keyakinan bahwa segala sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah Ta’ala dan membebaskan hati ini dari ketergantungan kepada selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 131)
.
Ya Allah.. Tradisi ini masih marak sekali di sekitar kita. Bahkan menjadi bahasan yang unik dan menarik yang diangkat di berita-berita televisi. 😢
Semoga kita tidak terjebak dalam dosa syirik ya dear.. 😇
.
#WaspadaSyirik

Musibah

Banyak sekali yang salah dalam mengartikan makna Musibah. Kita pada umumnya akan menafsirkan kesusahan Dunia itu ada Musibah. Seperti kecelakaan, tertimpa bencana, atau bahkan menilai hidup miskin, terlilit banyak hutang, pesakitan, pun adalah Musibah. Padahal itu semua bukan Musibah tapi Ujian.
.
Nah Ujian pun tidak hanya berupa kesedihan tapi juga kesenangan. Uang banyak, rumah mewah, kendaraan Mewah dll. Intinya, semua yang kita miliki saat ini adalah ujian. Allah ingin melihat seberapa taat kita terhadapNya jika ditempatkan diposisi saat ini.
.
Lalu apa Makna Musibah? pengertian Musibah adalah jika diri kita jauh dari Allah dan Allah membiarkan kita karena kemaksiatan yang kita lakukan.
.
Makanya  walaupun ada orang kaya dan dia bisa membeli segalanya di dunia dengan uangnya tapi dia jauh dari Allah, Maka itu yg dinamakan musibah. Begitu pula dengan orang miskin, musibah yang menimpanya bukanlah karena kemiskiannya tapi karena jauh dari Allah.
.
Mengapa jauh dari Allah dikatakan sebagai Musibah? ya karena jauh dari Allah, tak kan diberi kebahagiaan Dunia apalagi di akhirat. Lalu apa yang paling menyedihkan selain masuk ke Neraka? pasti tidak ada, Karena Allah telah mendesain Neraka adalah tempat penyiksaan yg tidak ada hentinya.

3 Jalan Menuju Hijrah Dan Istiqomah

3 Jalan Menuju Hijrah Dan Istiqomah 
Nah ternyata untuk berhijrah dari aktifitas kemaksiatan menuju ketaatan itu memang butuh Niat dan Action. Untuk actionnya juga butuh langkah-langkah yang harus dipelajari dan jalani, agar proses hijrah ini tidak setengah-setengah tapi kaffah (menyeluruh).
.
Apa aja yang harus ditempuh?
.
1. Aqidah. Jadi Aqidah ini berhubungan dengan pertanyaan WHY/MENGAPA. Nah kita harus mencari jawaban Mengapa aku ada di dunia ini? Mengapa aku harus berislam? Mengapa Tuhan kita Allah? Mengapa harus berimana pada Rosulullah, Al Qur’an, Malaikat, Hari Kiamat, Qadha dan Qadar?. Jika pertanyaan ini sudah didapatkaan secara sempurna dan masuk kedalam logika dari hasil pemikiran kita yang jernih dan cemerlang, insyaAllah Aqidah itu akan menancap kuat dan mengubah peribadi serta perilaku kita menjadi Islami secara otomatis. Aqidah ini, bisa didapatkan jika melakukan kajian-kajian secara intensive. Karena dengan kajian Intensive kita bisa mendapatkan jawaban-jawaban itu secara menyeluruh.
.
2. Ukhuwah. Nah yang dimaksud Ukhuwah ini adalah, manjalin persaudaraan sesama muslim. Walaupun memang seluruh muslim itu bersaudara, tapi jarang sekali yang menjalin atau merekatkan diri dengan muslim yang lainnya. Cara untuk bisa merekatkan ukhuwah ini adalah dengan kita bergabung bersama Jama’ah. Karena dengan berjama’ah kita saling diingatkan dalam ketaatan. Dan dengan berjama’ah, kita tidak midah untuk masuk kedalam aktifitas kemaksiatan.
.
3. Syari’ah. Nah setelah kita mantap dengan Aqidah dan bergabung dalam Jama’ah. Maka kita dengan mudah untuk menerapkan Syari’ah. Penerapan Syari’ah akan menjadi kebutuhan hidup. Bahkan akan menjadi beban hidup jika kita mencoba untuk meninggalkannya.
.
So, itu adalah tips dari Alila untuk kita melangkah Hijrah, dan istiqomah didalamnya. Semoga setelah ini, #lovalila sekalian bisa berusaha untuk menerapkannya. Karena, walaupun ada niat jika tak diseriusi dengan perbuatan mak tak menujukkan hasil apa-apa.

Cara Menghindari Adzab Allah

Apa alasanku untuk tidak meminta ampun pada-Nya? Padahal aku telah banyak bermaksiat pada-Nya 
Apa alasanku untuk tidak taat pada-Nya? Padahal Dia yang telah menciptakanku
Apa alasanku untuk tidak menyembah-Nya? Padahal kelak aku akan kembali hanya pada-Nya
Allah Maha Baik, Maha Belas Kasih, Maha Pemberi Maaf 
Allah tahan adzab-Nya untuk kita padahal kita telah melampaui batas
Allah telah mengutus seorang Rasul untuk memberi tuntunan dan Al-Quran sebagai pedoman, tapi sebagian manusia malah memperolok bahkan mendustakan
Mari sama-sama tanyakan pada diri, sampai kapan tuntunan itu hanya akan menjadi sebuah tontonan, ketaatan dianggap sebagai keanehan dan memenuhi segala seruan-Nya dipandang sebagai perilaku berlebihan?

Indonesia Butuh Pemuda Pemudi Beriman

Dulu kokohnya Benteng konstantinopel ditaklukan oleh panglima perang yang berumur 21 tahun, Muhammad Al Fatih namanya. Begitupun pada zaman Rasulullah SAW. Beliau menegakkan Daulah Islamiyyah di Madinah, karena beliau memilih tuk dikelilingi dan dibantu oleh para Pemuda. Bukan pemuda biasa tapi pemuda yang hatinya dipenuhi dengan taqwa.
.
Mengapa pemuda?
.
Karena tenaganya, fikirannya, dan waktunya Allah kasih dalam porsi terbanyak dari fase-fase manusia lainnya.
.
Jadi, bukan hal yang spesial sebenarnya, jika pemuda mampu membuat perubahan besar kearahan yang benar. Karena memang itu sudah dilakukan oleh pemuda-pemuda di zaman dulu, asalkan 1 ada Taqwa di hati mereka. .
Kini pemuda di Indonesia menjadi sorotan. Karena memang tak bisa di nafikkan, jika menginginkan perubahan yang besar, maka pemudalah yang bergerak. Dan Jika perubahannya itu ingin menuju kebenaran, maka installah pemahaman Islam pada setiap pemudanya
.
Karena tegaknya Peradaban Islam, berada ditangan Pemuda yang beriman.

Kisah Pemuda Soleh Mush’ab Bin Umair

Kisah Pemuda Soleh Mush’ab Bin Umair
Masa muda atau usia remaja adalah saat orang-orang mulai mengenal dan merasakan manisnya dunia. Pada fase ini, banyak pemuda lalai dan lupa, jauh sekali lintasan pikiran akan kematian ada di benak mereka. Apalagi bagi mereka orang-orang yang kaya, memiliki fasilitas hidup yang dijamin orang tua. Mobil yang bagus, uang saku yang cukup, tempat tinggal yang baik, dan kenikmatan lainnya, maka pemuda ini merasa bahwa ia adalah raja.
Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Ia adalah Mush’ab bin Umair. Ada yang menukilkan kesan pertama al-Barra bin Azib ketika pertama kali melihat Mush’ab bin Umair tiba di Madinah. Ia berkata,
رَجُلٌ لَمْ أَرَ مِثْلَهُ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الجَنَّةِ “Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.” Ia adalah di antara pemuda yang paling tampan dan kaya di Kota Mekah. Kemudian ketika Islam datang, ia jual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat.
Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya
Mush’ab bin Umair dilahirkan di masa jahiliyah, empat belas tahun (atau lebih sedikit) setelah kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun 571 M (Mubarakfuri, 2007: 54), sehingga Mush’ab bin Umair dilahirkan pada tahun 585 M.
Ia merupakan pemuda kaya keturunan Quraisy; Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdud Dar bin Qushay bin Kilab al-Abdari al-Qurasyi.
Dalam Asad al-Ghabah, Imam Ibnul Atsir mengatakan, “Mush’ab adalah seorang pemuda yang tampan dan rapi penampilannya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat kaya. Sandal Mush’ab adalah sandal al-Hadrami, pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.”
.
(al-Jabiri, 2014: 19).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ
“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).
Ibunya sangat memanjakannya, sampai-sampai saat ia tidur dihidangkan bejana makanan di dekatnya. Ketika ia terbangun dari tidur, maka hidangan makana sudah ada di hadapannya.
Demikianlah keadaan Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda kaya yang mendapatkan banyak kenikmatan dunia. Kasih sayang ibunya, membuatnya tidak pernah merasakan kesulitan hidup dan kekurangan nikmat.
Menyambut Hidayah Islam
Orang-orang pertama yang menyambut dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah istri beliau Khadijah, sepupu beliau Ali bin Abi Thalib, dan anak angkat beliau Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhum. Kemudian diikuti oleh beberapa orang yang lain. Ketika intimidasi terhadap dakwah Islam yang baru saja muncul itu kian menguat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam radhiyallahu ‘anhu. Sebuah rumah yang berada di bukit Shafa, jauh dari pengawasan orang-orang kafir Quraisy.
Mush’ab bin Umair yang hidup di lingkungan jahiliyah; penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian, Allah beri cahaya di hatinya, sehingga ia mampu membedakan manakah agama yang lurus dan mana agama yang menyimpang. Manakah ajaran seorang Nabi dan mana yang hanya warsisan nenek moyang semata. Dengan sendirinya ia bertekad dan menguatkan hati untuk memeluk Islam. Ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah al-Arqam dan menyatakan keimanannya.
Kemudian Mush’ab menyembunyikan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy.
Dalam keadaan sulit tersebut, ia tetap terus menghadiri majelis Rasulullah untuk menambah pengetahuannya tentang agama yang baru ia peluk. Hingga akhirnya ia menjadi salah seorang sahabat yang paling dalam ilmunya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya ke Madinah untuk berdakwah di sana.
Menjual Dunia Untuk Membeli Akhirat
Suatu hari Utsmani bin Thalhah melihat Mush’ab bin Umair sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia pun melaporkan apa yang ia lihat kepada ibunda Mush’ab. Saat itulah periode sulit dalam kehidupan pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.
Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama nenek moyang, ibu Mush’ab kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa ia tidak akan makan dan minum serta terus beridiri tanpa naungan, baik di siang yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya. Saudara Mush’ab, Abu Aziz bin Umair, tidak tega mendengar apa yang akan dilakukan sang ibu. Lalu ia berujar, “Wahai ibu, biarkanlah ia. Sesungguhnya ia adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya”. Mush’ab pun ditangkap oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.
Hari demi hari, siksaan yang dialami Mush’ab kian bertambah. Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Mush’ab juga mendapat siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus.
Berubahlah kehidupan pemuda kaya raya itu. Tidak ada lagi fasilitas kelas satu yang ia nikmati. Pakaian, makanan, dan minumannya semuanya berubah. Ali bin Abi Thalib berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang…” (HR. Tirmidzi No. 2476).
Zubair bin al-Awwam mengatakan, “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dengan para sahabatnya di Masjid Quba, lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan kain burdah (jenis kain yang kasar) yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orang pun menunduk. Lalu ia mendekat dan mengucapkan salam. Mereka menjawab salamnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji dan mengatakan hal yang baik-baik tentangnya. Dan beliau bersabda, “Sungguh aku melihat Mush’ab tatkala bersama kedua orang tuanya di Mekah. Keduanya memuliakan dia dan memberinya berbagai macam fasilitas dan kenikmatan. Tidak ada pemuda-pemuda Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia tinggalkan semua itu demi menggapai ridha Allah dan menolong Rasul-Nya…” (HR. Hakim No. 6640).
Saad bin Abi Waqqash radhiayallahu ‘anhu berkata, “Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab bin Umair adalah pemuda Mekah yang paling harum. Ketika ia mengalami apa yang kami alami (intimidasi), keadaannya pun berubah. Kulihat kulitnya pecah-pecah mengelupas dan ia merasa tertatih-taih karena hal itu sampai-sampai tidak mampu berjalan. Kami ulurkan busur-busur kami, lalu kami papah dia.” (Siyar Salafus Shaleh oleh Ismail Muhammad Ashbahani, Hal: 659).

Hukum Celana Longgar Bagi Muslimah

Hukum memakai Hijab Syar’i yang Alila ambil adalah sesuai dengan dalil dalam AlQur’an, yaitu:
KHIMAR (QS.24:31)+ JILBAB (QS. 33:59)-TABARRUJ (33:33)
.
Nah karena pertanyaanya adalah boleh kah pakai celana longgar? Maka sesuai dengan pendapat yang Alila ambil, jawabannya adalah tidak. Karena yang Alila pelajari, bahwa yg dimaksud Jilbab dari ayat (QS. 33:59) adalah kain yang menjulur ke seluruh tubuh seperti lorong, jadi tidak ada potongan disitu. Lalu, penggunaan celana itu dari pendapat yang Alila yakini membentuk kaki karena tardapat belahan ditengah.
.
Tapi Alila keembalikan lagi kepada temen-temen sekalian jika ada pendapat yang memang dianggap lebih kuat. Yang jelas jadikan setiap apa yang kita lakukan itu adalah bentuk ibadah kepada Allah, namun kembali lagi Ibadah pun ada syari’at atau aturannya agar mendapat ridho Allah…
#sesiQnAspesial

Muhasabah

Sebenarnya apasih pentingnya bermuhasabah?
Penting banget, karena dengan bermuhasabah berarti kita mengingat, menyesali lalu mengevaluasi diri. Berusaha untuk ga mengulang kesalahan itu lagi.
.
Salah satu cara bermuhasabah yang paling kecil adalah dengan sering berucap istighfar, sering berdzikir, dan sebutkan segala kesalahan saat berdo’a.
.
walaupun awalnya berat tapi yang terpenting adalah berproses dan berprogres. Dan itu bisa berprogres jika kita paksakan.
.
Tapi sayangnya… banyak juga yang ga menjadikan kelaliannya sebagai pelajaran. Yang terjadi malah sebaliknya, berlarut-larut dalam kesalahan dan yang lebih parah tak pernah merasa mempunyai salah dalam dirinya.
.
Astaghfirullah… semoga Allah ampuni kesalahan-kesalahan kita dan semoga kita semua termasuk orang-orang yang senantiasa bermuhasabah dan selalu memperbaiki diri. Aamiin…

Cobaan Penggugur Dosa

Dulu aku sempet mikir kenapa sih kok aku dikasih cobaan yang berat? Kenapa harus aku?
Kayaknya masalah orang lain ga seberat masalahku.
⠀ 
Tapi ternyata aku salah, ternyata aku terlalu fokus di bagian menyedihkannya aja, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”. (HR. Bukhari)
⠀ 
Aku ga lihat bagian hebatnya dari sebuah cobaan, bahwa disitu Allah kasih kesempatan yang sangaaaaat luas untuk aku memperoleh pahala dan menghapus dosa-dosaku. ⠀
Caranya? Ya dengan bersabar dan mengerjakan amal-amal saleh
‎إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
“kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hud 11:11)
Bersabar dan berdoalah tanpa mengenal sebab… karena, Allah menjawab semua doa dan mengampuni segala dosa